Perbankan Syariah. Saham-saham syariah dengan valuasi murah dan dividend yield tinggi masih menjadi incaran investor pada 2026. Di tengah inflasi tahunan yang tercatat sebesar 3,08% pada Mei 2026, sejumlah emiten syariah menawarkan imbal hasil dividen jauh di atas tingkat inflasi.
Berdasarkan kompilasi data valuasi saham syariah dan dividen favorit 2026, terdapat sejumlah emiten yang layak dicermati karena memiliki kombinasi valuasi murah, dividend yield menarik, dan prospek bisnis yang masih terbuka dalam beberapa tahun ke depan. Patokan valuasi murah dalam daftar tersebut menggunakan acuan PER di bawah 10 kali, sementara saham dengan dividend yield minimal 8% masuk dalam klaster paling menarik bagi investor pemburu dividen.
Emiten Batu Bara Masih Mendominasi
Sektor batu bara masih menjadi penyumbang terbesar dalam daftar saham syariah berdividen tinggi. Beberapa emiten seperti BSSR, ITMG, MBAP, BYAN, GEMS, PTBA, UNTR, dan ADRO masuk dalam daftar pantauan karena memiliki rekam jejak pembagian dividen serta valuasi yang relatif murah.
BSSR menjadi salah satu saham dengan yield tertinggi, yakni sekitar 10%. Emiten ini dikenal cukup rajin membagikan dividen, bahkan beberapa kali dalam setahun. Dengan PER sekitar 7,5 kali dan PBV di bawah 1 kali, BSSR masuk kategori menarik bagi investor yang mencari saham dividen berbasis komoditas.
Ke depan, prospek BSSR masih ditopang oleh kemampuan perusahaan menjaga arus kas dan efisiensi operasional. Selama permintaan batu bara termal masih bertahan, terutama dari kawasan Asia, ruang bagi perusahaan untuk mempertahankan kebijakan dividen tetap terbuka. Hal ini menjadi nilai tambah bagi investor yang mengincar pendapatan rutin dari pasar saham.
Saham ITMG juga masih menjadi perhatian. Dengan dividend yield sekitar 9,7% dan PER sekitar 8,8 kali, ITMG dinilai tetap menarik untuk investor yang memburu kombinasi dividen dan potensi kenaikan harga saham. Sebagai salah satu emiten batu bara berkapitalisasi besar, ITMG memiliki posisi keuangan yang relatif kuat dan rekam jejak pembagian dividen yang konsisten.
Dalam jangka menengah, ITMG masih memiliki peluang untuk menjaga kinerja melalui pengelolaan biaya, diversifikasi pelanggan ekspor, serta disiplin belanja modal. Apabila harga batu bara global kembali menguat, ruang pemulihan laba dan potensi dividen bisa menjadi sentimen positif bagi saham ini.
Saham Non-Komoditas Ikut Menarik
Tidak hanya emiten batu bara, sejumlah saham non-komoditas juga masuk daftar saham syariah berdividen menarik. POWR misalnya, menawarkan dividend yield sekitar 9,6% dengan PER sekitar 6,5 kali. Bisnis pembangkit listrik swasta yang relatif defensif membuat POWR menarik bagi investor yang menginginkan arus kas lebih stabil.
Prospek POWR ke depan cukup menarik karena kebutuhan listrik kawasan industri masih berpotensi meningkat seiring ekspansi manufaktur dan relokasi pabrik ke Indonesia. Model bisnis berbasis kontrak jangka panjang juga dapat membantu perusahaan menjaga pendapatan secara lebih stabil dibandingkan sektor yang terlalu bergantung pada siklus komoditas.
Saham TLKM juga menarik dicermati. Sebagai emiten telekomunikasi, TLKM menawarkan yield sekitar 8,3%. Meski valuasinya relatif lebih tinggi dibandingkan emiten lain dalam klaster yield besar, TLKM memiliki karakter bisnis defensif karena layanan telekomunikasi dan data sudah menjadi kebutuhan utama masyarakat.
Ke depan, TLKM masih memiliki ruang pertumbuhan dari peningkatan konsumsi data, pengembangan layanan digital, pusat data, dan konektivitas korporasi. Jika transformasi digital perusahaan berjalan efektif, TLKM berpeluang tetap menjadi saham defensif yang mampu menawarkan kombinasi dividen dan potensi pemulihan harga.
United Tractors dan PGAS Punya Prospek Menarik
Saham UNTR juga patut dicermati karena memiliki bisnis yang lebih terdiversifikasi. Selain alat berat, UNTR memiliki eksposur pada kontraktor tambang, batu bara, dan emas. Dengan PER sekitar 6,5 kali serta PBV di bawah 1 kali, valuasi UNTR terlihat masih menarik.
Prospek UNTR ke depan tidak hanya bertumpu pada sektor batu bara, tetapi juga pada pertumbuhan bisnis emas dan kebutuhan alat berat dari sektor pertambangan lain. Diversifikasi ini membuat UNTR memiliki bantalan bisnis yang lebih kuat dibandingkan emiten yang hanya bergantung pada satu komoditas.
Sementara itu, PGAS memiliki daya tarik dari bisnis infrastruktur gas yang relatif stabil. Kebutuhan gas untuk industri, pembangkit listrik, dan transisi energi dapat menjadi peluang jangka panjang bagi perusahaan. Selama permintaan gas domestik terus tumbuh, PGAS berpotensi menjaga arus kas dan membagikan dividen secara berkelanjutan.
Meski prospeknya cukup menarik, investor tetap perlu mencermati risiko masing-masing sektor. Saham batu bara masih sensitif terhadap pergerakan harga komoditas global, kebijakan energi, dan permintaan dari negara besar seperti China dan India.
Sementara itu, saham pembiayaan seperti BFIN memiliki risiko dari kualitas kredit. Untuk emiten defensif seperti TLKM, tantangannya datang dari persaingan bisnis telekomunikasi dan tekanan terhadap pertumbuhan laba.
Namun, secara umum saham dividen syariah masih memiliki tempat bagi investor jangka panjang. Kombinasi valuasi yang belum mahal, yield di atas inflasi, serta prospek bisnis yang tetap berjalan membuat sejumlah emiten ini layak masuk daftar pantauan.
Bagi investor yang mengincar pendapatan pasif, saham-saham dividen dapat menjadi pilihan menarik. Kuncinya, investor perlu memilih emiten dengan fundamental sehat, arus kas kuat, rekam jejak dividen konsisten, dan prospek bisnis yang masih relevan untuk masa depan.