Perbankan Syariah – Remaja sekarang hidup di tengah banyak godaan kecil. Hari ini beli kopi susu, besok top up game, lusa beli skincare, akhir pekan nongkrong. Belum lagi paket data, bensin, jajan, thrifting, aksesori HP, atau checkout barang lucu yang lewat di FYP.

Satu transaksi mungkin terlihat kecil. Kopi Rp18.000, top up Rp25.000, skincare Rp45.000, jajan Rp15.000. Tapi kalau dilakukan berkali-kali, uang jajan mingguan bisa hilang tanpa terasa.

Masalahnya bukan karena remaja tidak boleh menikmati hidup. Kopi boleh, game boleh, skincare juga boleh. Yang jadi masalah adalah ketika semua keinginan dianggap penting, sampai kebutuhan utama dan tabungan masa depan dilupakan.

Ada peribahasa terkenal: sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Biasanya ini dipakai untuk menabung. Tapi dalam keuangan, peribahasa ini juga berlaku sebaliknya. Pengeluaran kecil yang dilakukan terus-menerus juga bisa menjadi “bukit kebocoran”.

Pengeluaran Kecil yang Diam-Diam Bikin Dompet Bocor

Banyak remaja merasa uangnya cepat habis, tapi tidak tahu habis untuk apa. Saat ditanya, jawabannya sering sama: “Kayaknya cuma jajan biasa.” Padahal, jajan biasa kalau terlalu sering bisa menjadi pengeluaran besar.

Misalnya, beli kopi tiga kali seminggu Rp18.000 berarti Rp54.000. Dalam sebulan bisa sekitar Rp216.000. Top up game Rp25.000 seminggu sekali berarti sekitar Rp100.000 sebulan. Skincare atau body care bisa Rp75.000 sampai Rp150.000 sebulan. Belum termasuk kuota, bensin, makan di luar, dan nongkrong.

Kalau dijumlahkan, ternyata uang bukan hilang. Uang hanya keluar sedikit demi sedikit tanpa dicatat dan tanpa disadari.

Di dunia investasi, ada sosok Lo Kheng Hong atau LKH yang sering dikenal sebagai investor sabar dan sederhana. Pelajaran yang bisa diambil dari gaya hidupnya waktu muda bukan soal langsung punya uang besar, tetapi soal kebiasaan menahan diri, hidup tidak berlebihan, dan menempatkan uang untuk hal yang lebih produktif.

Remaja juga bisa belajar dari prinsip itu. Tidak harus langsung investasi besar. Mulailah dari kebiasaan kecil: menyisihkan uang, menunda belanja yang tidak perlu, dan tahu ke mana uang pergi.

Cara Menentukan Prioritas: Butuh, Ingin, atau Cuma Gengsi?

Cara paling mudah adalah membedakan kebutuhan, keinginan, dan gengsi.

Kebutuhan adalah pengeluaran yang memang penting, seperti transportasi, kuota belajar, alat sekolah, makan, obat, atau skincare dasar jika memang diperlukan untuk kesehatan kulit.

Keinginan adalah pengeluaran yang membuat hidup lebih menyenangkan, tetapi masih bisa ditunda. Misalnya kopi kekinian, skin game, parfum, baju baru, nongkrong, atau aksesori HP.

Gengsi adalah pengeluaran yang dilakukan bukan karena butuh, tetapi karena takut ketinggalan. Misalnya ikut top up karena teman punya skin baru, beli skincare viral padahal belum cocok, atau nongkrong padahal uang sudah menipis.

Di sinilah peribahasa besar pasak daripada tiang menjadi relevan. Artinya, pengeluaran lebih besar daripada pemasukan. Dalam bahasa remaja: uang jajan belum seberapa, tapi gaya hidup sudah seperti sultan.

Supaya lebih aman, remaja bisa memakai rumus sederhana 50-30-20. Misalnya punya uang jajan Rp400.000 per bulan. Sekitar 50% dipakai untuk kebutuhan utama, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan atau tujuan khusus.

Kalau uang jajan mingguan Rp100.000, sisihkan dulu Rp20.000 untuk tabungan. Setelah itu baru atur untuk kebutuhan dan hiburan. Prinsipnya sederhana: jangan menunggu sisa untuk menabung, karena biasanya tidak ada yang tersisa.

Lalu, mana yang harus didahulukan: kopi, top up game, atau skincare?

Jawabannya tergantung kondisi. Kalau skincare memang dibutuhkan untuk merawat kulit dan dipakai rutin, itu bisa menjadi kebutuhan. Tapi kalau dibeli hanya karena kemasannya lucu atau ikut tren, itu masuk keinginan.

Kopi sesekali tidak masalah. Tapi kalau setiap hari beli kopi kekinian, itu bisa mengganggu anggaran. Top up game juga boleh selama masih hiburan. Tapi kalau sampai mengganggu uang makan, tugas sekolah, atau membuat berutang ke teman, berarti sudah tidak sehat.

Musuh terbesar remaja hari ini adalah FOMO, takut ketinggalan tren. Melihat teman punya barang baru, langsung ingin beli. Melihat promo flash sale, langsung checkout. Melihat skin limited, langsung top up. Padahal belum tentu butuh.

Agar tidak terjebak, coba pakai aturan 24 jam. Kalau ingin membeli sesuatu yang bukan kebutuhan, tunggu satu hari. Jika besok masih merasa perlu dan uangnya ada, boleh dipertimbangkan. Kalau keinginannya hilang, berarti kemarin hanya dorongan emosi.

Selain itu, mulailah mencatat pengeluaran. Tidak perlu rumit. Pakai notes HP saja cukup. Tulis tanggal, barang yang dibeli, nominal, dan kategorinya. Setelah dua minggu, kamu akan melihat pola. Dari situ kamu tahu uang paling sering bocor di mana.

Kemampuan mengatur uang sejak remaja akan sangat berguna sampai kuliah dan dewasa. Di Perbankan Syariah Universitas Alma Ata (UAA), mahasiswa belajar bahwa uang bukan hanya untuk dihabiskan, tetapi untuk dikelola. Mahasiswa mempelajari literasi keuangan, pembiayaan, investasi syariah, perilaku keuangan, teknologi keuangan, dan pengelolaan aset.

Dalam perspektif syariah, uang adalah amanah. Boleh menikmati hidup, tetapi jangan berlebihan. Boleh membeli sesuatu yang disukai, tetapi tetap harus tahu batas.

Inilah semangat Aset Navigator: mampu membaca, menjaga, dan mengembangkan aset. Aset bukan hanya uang besar. Uang jajan, kebiasaan baik, skill mengatur prioritas, dan kemampuan menahan diri juga termasuk aset masa depan.

Kopi, top up game, dan skincare bukan musuh keuangan. Semuanya boleh selama sesuai kemampuan dan tidak mengganggu kebutuhan utama.

Seperti peribahasa hemat pangkal kaya, hemat bukan berarti pelit. Hemat berarti tahu mana yang penting, mana yang bisa ditunda, dan mana yang sebenarnya hanya gengsi.

Bersama Perbankan Syariah UAA, anak muda bisa belajar mengelola uang, memahami prioritas, dan membangun masa depan dengan nilai syariah.

Karena hidup boleh tetap asik, tapi dompet juga harus tetap waras.