Perbankan Syariah — Bank Indonesia terus memperkuat berbagai langkah kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Di tengah kondisi global yang masih penuh ketidakpastian, stabilitas ekonomi tidak hanya menjadi tugas bank sentral, tetapi juga membutuhkan dukungan pemerintah, perbankan, dunia usaha, dan masyarakat.
Melalui berbagai instrumen kebijakan, BI berupaya menjaga rupiah tetap stabil, memastikan likuiditas perbankan tetap cukup, mendorong pembiayaan ke sektor produktif, serta mempercepat digitalisasi ekonomi dan sistem pembayaran. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga daya tahan ekonomi Indonesia agar tetap tumbuh dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.
Salah satu langkah yang dilakukan BI adalah memperkuat intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward atau DNDF, serta Non-Deliverable Forward atau NDF di pasar luar negeri. Kebijakan ini bertujuan menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan pasar keuangan global.
Bagi masyarakat, dukungan dapat dilakukan dengan cara sederhana: menggunakan rupiah dalam transaksi sehari-hari, tidak membeli dolar secara berlebihan, serta tidak panik ketika nilai tukar bergerak. Kepanikan justru dapat memperbesar tekanan terhadap rupiah.
Selain itu, BI juga mengoptimalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI agar aset berbasis rupiah tetap menarik bagi investor. Semakin menarik aset rupiah, semakin besar peluang masuknya dana ke pasar keuangan domestik. Masyarakat dapat ikut mendukung dengan memilih instrumen investasi legal dan menghindari investasi ilegal yang menjanjikan keuntungan tidak wajar.
Investasi yang aman memperkuat rupiah, investasi ilegal melemahkan masa depan.
Dalam menjaga likuiditas pasar, Bank Indonesia juga membeli Surat Berharga Negara atau SBN di pasar sekunder secara terukur dan sesuai mekanisme pasar. Langkah ini menjadi bentuk sinergi kebijakan moneter dan fiskal agar pasar uang dan perbankan tetap memiliki likuiditas yang memadai.
Masyarakat dapat berperan dengan mulai mengenal SBN ritel sesuai kemampuan. Selain menjadi salah satu alternatif investasi yang relatif aman, pembelian SBN juga mendukung pembiayaan pembangunan nasional.
BI juga menjaga kecukupan likuiditas di perbankan agar kredit dan pembiayaan tetap dapat mengalir ke masyarakat serta dunia usaha. Dalam hal ini, masyarakat memiliki peran penting dengan menjaga kesehatan keuangan pribadi, membayar cicilan tepat waktu, dan menggunakan kredit secara produktif.
Kredit yang sehat akan membuat perbankan lebih kuat. Sebaliknya, kredit konsumtif yang tidak terkendali dapat menekan kesehatan keuangan pribadi maupun sistem keuangan.
Dari sisi makroprudensial, BI memperkuat Kebijakan Likuiditas Makroprudensial atau KLM untuk mendorong kredit dan pembiayaan ke sektor prioritas. Sektor tersebut mencakup pertanian, industri, hilirisasi, pariwisata, ekonomi kreatif, konstruksi, real estate, perumahan, UMKM, koperasi, inklusi, dan sektor berkelanjutan.
Bagi pelaku usaha, dukungan terhadap kebijakan ini dapat dilakukan dengan memperbaiki pencatatan keuangan, menyusun administrasi usaha, menjaga arus kas, dan memanfaatkan pembiayaan perbankan secara bertanggung jawab. Usaha yang rapi secara administrasi akan lebih mudah mengakses pembiayaan produktif.
BI juga memperluas cakupan Rasio Intermediasi Makroprudensial atau RIM agar bank memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menghimpun dan menyalurkan dana. Dalam konteks ini, masyarakat dapat mendukung dengan menabung di lembaga keuangan resmi dan menggunakan produk perbankan sesuai kebutuhan.
Semakin kuat dana masyarakat di perbankan, semakin besar pula ruang pembiayaan bagi sektor produktif.
Selain itu, BI bersama pemerintah, OJK, perbankan, dan dunia usaha memperkuat sinergi melalui Program Percepatan Intermediasi Nasional atau PINISI. Program ini diarahkan agar pembiayaan ekonomi dapat berjalan lebih optimal dan tepat sasaran.
Masyarakat dapat mendukung sinergi ini melalui kepatuhan terhadap aturan keuangan, transparansi dalam kegiatan usaha, dan budaya pengelolaan keuangan yang sehat. Stabilitas ekonomi tidak hanya dibangun oleh lembaga besar, tetapi juga oleh kedisiplinan masyarakat dalam mengelola uang.
Di sisi digitalisasi, BI terus mendorong penggunaan QRIS, termasuk QRIS antarnegara, serta pengembangan kewirausahaan digital melalui Pusat Inovasi Digitalisasi Indonesia atau PIDI. Digitalisasi sistem pembayaran diharapkan membuat transaksi lebih cepat, mudah, aman, dan efisien.
Masyarakat dapat ikut berperan dengan menggunakan QRIS untuk transaksi harian, memilih kanal pembayaran resmi, menjaga keamanan data pribadi, dan membantu UMKM beradaptasi dengan sistem pembayaran digital.
BI juga memperluas transaksi Local Currency Transaction atau LCT, termasuk transaksi yuan dan rupiah, untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang tertentu dalam perdagangan internasional. Kebijakan ini penting agar ekonomi nasional lebih tahan terhadap gejolak global.
Bagi pelaku ekspor-impor, pemahaman mengenai penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara menjadi semakin penting. Semakin luas penggunaan mata uang lokal, semakin kuat ketahanan ekonomi nasional.
Di sisi pengawasan, BI bersama OJK memperkuat pemantauan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi. Langkah ini dilakukan untuk mencegah tekanan berlebihan terhadap rupiah.
Masyarakat dapat membantu dengan tidak ikut-ikutan membeli dolar karena panik, tidak menyebarkan informasi ekonomi yang belum jelas sumbernya, dan mengikuti informasi resmi dari Bank Indonesia maupun lembaga pemerintah.
Berbagai langkah Bank Indonesia menunjukkan bahwa menjaga stabilitas rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi membutuhkan kebijakan yang menyeluruh. BI menjaga pasar keuangan, memperkuat likuiditas, mendorong kredit produktif, memperluas digitalisasi, dan memperkuat sinergi lintas lembaga.
Namun, keberhasilan kebijakan tersebut juga membutuhkan partisipasi masyarakat. Mulai dari menggunakan rupiah, menabung di lembaga resmi, berinvestasi secara legal, memakai QRIS, mendukung UMKM, menjaga cicilan tetap sehat, hingga tidak panik menghadapi perubahan nilai tukar.