Perbankan Syariah – Hari Idul Fitri di tahun 1447 Hijiriah telah tiba sejenak kita mengingat atau bahkan meratap perginya bulan suci Ramadhan, memberikan kesan mendalam tentang arti perjumpaan dan perpisahan. Hal yang paling kuat tertanam dalam ingatan seorang mahasiswa tentu bukan libur lebarannya, namun apa yang bisa dilakukan selama Ramadhan menuju akhir berlebaran. Liburan jelas adalah bonus, lantas pertanyaan utamanya apa yang kemudian bisa disebut sebagai hadiah inti dari Ramadhan?

Ramadhan di setiap waktunya memberikan satu peluang terbaik bagi mahasiswa untuk melakukan transformasi diri. Suatu cara membangun perubahan dengan membentuk kebiasaan baru yang mungkin sebelumnya tidak ada menjadi wujud, sebelumnya jarang dilakukan menjadi sering, dari sesuatu yang tidak diketahui menjadi paham untuk dilakukan. Semua ini terjadi karena Ramadhan hendaknya dipahami oleh mahasiswa sebagai madrasah atau tempat menuntut ilmu. Makna madrasah sejalan dengan kedudukan mahasiswa sebagai individu yang nantinya diharapkan menjadi ulil albab yakni orang-orang yang berakal murni. Mereka yang tidak hanya sebatas memiliki kedalaman akal, namun mampu untuk mengintegrasikan kesucian pikir dan nurani untuk mengenal kebesaran Allah SWT melalui arti dzikir.

Dzikir merupakan bentuk kerendahan hati seorang manusia yang berpikir bahwa ada kekuatan yang Maha Besar untuk mengatur seluruh Alam dan seisinya. Tugas dari seorang mahasiswa tidak lebih untuk mengisi kehidupan ini dengan cara mengingat kebesaran yang dimiliki oleh Tuhannya dan tidak sekedar menjadikan ilmu sebagai tuannya. Mahasiswa yang berhasil dalam mengisi bulan Ramadhan, puncaknya akan sangat menyadari betapa dangkalnya wawasan, pengetahuan dan peran yang dimiliki dalam hidupnya. Hal inilah yang kemudian menjadi katalis dan mengelevasi keinginan seorang mahasiswa untuk terus berbenah diri menjadi sebaik-baik manusia.

Salah satu teori psikologi modern yang dipublikasikan oleh Teresa Amabile dan Steven Kramer tentang Prinsip-prinsip Kemajuan (The Progress Principles) sangat layak untuk memberikan deskripsi tentang bagaimana mahasiswa membangun transformasi diri. Mahasiswa umumnya terjebak dengan rutinitas yang terkesan membosankan dan tidak membangun makna dari apa yang menjadi aktivitasnya, ini yang disebut oleh Amabile dan Kramer sebagai Workday Event. Dari teorinya, mereka mengatakan bahwa Mahasiswa sebenarnya mampu untuk menciptakan lompatan dan perubahan yang besar dengan mengaktivasi pada tiga kekuatan yang dimiliki dalam dirinya yakni: Persepsi-Pengetahuan, Emosi-Perasaan, dan Kehendak-Motivasi. Apabila tiga kekuatan ini berhasil dikonfigurasi secara maksimal dalam diri manusia, aktif sebagai sistem dalam diri yang hidup maka sejatinya kemajuan akan selalu dirasakan.

Contoh sederhana dalam mengaktivasi sistem dalam diri yang hidup ketika seseorang berhasil memaknai apa itu puasa. Persepsi-pengetahuan memahami itu sebagai salah satu kewajiban muslim dengan aturan yang detil. Emosi-perasaan dikendalikan untuk menyelami apa hakikat pentingnya berpuasa dalam mengolah ‘rasa’ dalam hati. Puncaknya, seorang mahasiswa hendaknya mampu menjadikan bekal ibadah puasa sebagai dorongan untuk menguatkan keinginan untuk menjadi insan yang lebih baik. Upaya mengintensifkan ketiga kekuatan ini jelas akan menjadikan mahasiwa menjadi individu yang setiap waktunya berkembang menjadi insan yang lebih baik dan berkemajuan.