Perbankan Syariah – Bulan Ramadhan 1447 Hijriah telah usai, kini telah masuk pada bulan Syawal di mana pengamalan ibadah selama Ramadhan diharapkan tetap membekas dan terus bertambah di hati tiap mukmin. Hal ini tidak terkecuali bagi kalangan insan akademik, baik dosen maupun mahasiswa, Ramadhan meninggalkan pesan yang sangat dalam. Salah satunya adalah mentalitas iftar atau berbuka puasa. Sekilas pernyataan tersebut mengandung klise yang tidak begitu jelas (ambigu), apa kaitan antara mentalitas iftar dengan aktivitas muamalah (kegiatan keseharian)?

Mentalitas iftar secara etimologis dimaknai sebagai menyegerakan berbuka. Sudah menjadi pemahaman umum bahwa berpuasa dan berbuka adalah satu ritual spiritual yang dilakukan oleh kaum muslim ketika berada di bulan suci Ramadhan. Berbuka secara leterlek (harfiah) tidak diartikan sebatas makan dan minum semata, namun juga memiliki makna ketauhidan di mana kemenangan individu untuk melawan hawa nafsu ketika mengimani ibadah puasa. Berbuka juga dipahami sebagai satu kebutuhan jasmani yang harus disegerakan ketika waktu untuk membatalkan ibadah puasa telah tiba.

Kaum muslim yang dilatih dengan menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh hendaknya menyadari pesan implisit penting dari hadinya makna berbuka. Iftar yang dipahami sebagai menyegerakan berbuka adalah kondisi mentalitas umat beragama, di mana ketika kesempatan untuk melakukan kebaikan itu telah tiba hendakya ia tidak lagi menunda atau berpikir untuk mengabaikannya. Kondisi ini menjadi relevan pada kajian psikologi modern yang dikenal dengan istilah prokrastinasi yakni keinginan untuk menunda. Mahasiswa di era penuh kemudahan dan kecanggihan teknologi saat ini sangat berpotensi mengalami kelelahan mental yang mengarah pada prokrastinasi akademik.

Bulan Syawal sudah saatnya menjadi titik balik bagi kalangan akademik, khususnya Mahasiswa agar lebih terbiasa responsif terhadap kebaikan. Dari kebaikan inilah yang diharapkan kelak akan menghadirkan perubahan, selama semangat yang dimiliki oleh mahasiswa bukan lagi pada pemahaman yang bisa ditunda atau berpikir untuk menunda. Mahasiswa wajib menyadari bahwa kekuatan untuk berubah bisa saja diperoleh dari dalam dirinya (faktor intrinsik) dan dari luar dirinya (faktor ekstrinsik). Namun jika ditanya lebih jauh, Ramadhan mengubah cara berpikir (mindset) dan dorongan individu (motivasi) mahasiswa seperti apa? Maka hal yang patut disyukuri dan renungkan adalah rutinitas spiritual yang diinternalisasikan secara benar maka akan menghasilkan kristalisasi karakter individu yang tidak hanya bermartabat namun juga bermanfaat tidak hanya bagi dirinya sendiri, lingkungan sekitar tapi bahkan mampu mencapai skala kebaikan yang lebih luas dan bebas batas.