Perbankan Syariah – Pendidikan tinggi penting bagi generasi muda untuk memahami frugal living, mengelola risiko keuangan, menghadapi fenomena sandwich generation, dan membangun ketahanan finansial berbasis nilai syariah.
Di tengah biaya hidup yang terus berubah, dunia kerja yang kompetitif, dan tekanan gaya hidup digital, generasi muda hari ini menghadapi tantangan finansial yang tidak sederhana. Mereka dituntut mandiri lebih cepat, tetapi pada saat yang sama hidup dalam ekosistem konsumsi yang sangat menggoda misal promo e-commerce, paylater, cicilan instan, gaya hidup media sosial, dan standar sukses yang sering kali tampak “harus cepat terlihat”.
Karena itu, pendidikan tinggi tidak lagi cukup dipahami sebagai jalan mencari ijazah atau pekerjaan. Kuliah seharusnya menjadi ruang pembentukan cara berpikir, cara mengambil keputusan, dan cara mengelola masa depan. Bagi generasi muda, terutama calon mahasiswa, pendidikan tinggi adalah bekal penting untuk memahami tiga realitas sekaligus yaitu fenomena frugal living, tekanan sandwich generation, dan karakter strawberry generation yang sering dilekatkan pada anak muda masa kini.
Frugal Living: Bukan Pelit, tetapi Cerdas Mengelola Pilihan
Frugal living sering disalahpahami sebagai hidup serba irit, menahan semua keinginan, atau bahkan pelit. Padahal, frugal living lebih tepat dipahami sebagai gaya hidup sadar nilai seperti membelanjakan uang untuk hal yang benar-benar penting, menghindari pemborosan, dan mengarahkan pengeluaran pada tujuan jangka panjang.
Studi Hasanah dan Badria (2024) pada Generasi Z menunjukkan bahwa frugal living dipahami sebagai kesadaran mengelola keuangan secara bijaksana, berkaitan dengan keberlanjutan dan tanggung jawab sosial. Namun, penerapannya tidak mudah karena generasi muda tetap menghadapi tekanan konsumsi tinggi, pengaruh teman sebaya, dan media sosial.
Inilah alasan mengapa frugal living tidak cukup hanya diajarkan melalui slogan “hemat pangkal kaya”. Anak muda perlu dibekali literasi keuangan, kemampuan menyusun prioritas, memahami risiko utang, membaca akad, serta membedakan kebutuhan, keinginan, dan gengsi. Di sinilah pendidikan tinggi, khususnya pendidikan di bidang keuangan dan perbankan syariah, memiliki peran strategis.
Generasi Muda Besar Jumlahnya, tetapi Rentan Secara Finansial
Indonesia memiliki modal demografi yang besar. Berdasarkan data BPS tahun 2024 yang dihimpun dalam laporan kepemudaan, jumlah pemuda Indonesia usia 16–30 tahun mencapai sekitar 64,22 juta jiwa atau sekitar seperlima penduduk Indonesia. Indeks Pembangunan Pemuda juga meningkat dari 48,67 pada 2015 menjadi 58,33 pada 2024, meski kenaikannya dinilai masih lambat karena rata-rata peningkatannya kurang dari 1 poin per tahun.
Artinya, generasi muda adalah kekuatan besar bangsa, tetapi kualitasnya harus terus diperkuat. Jumlah besar saja tidak cukup. Anak muda perlu memiliki pendidikan, keterampilan kerja, literasi digital, etika, dan kemampuan finansial agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi keuangan, tetapi juga pengambil keputusan keuangan yang cerdas.
Data OJK dan BPS melalui SNLIK 2025 menunjukkan indeks literasi keuangan nasional sebesar 66,46 persen dan indeks inklusi keuangan sebesar 80,51 persen. Namun, literasi keuangan syariah baru mencapai 43,42 persen, sedangkan inklusi keuangan syariah sebesar 13,41 persen. Angka ini menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap layanan keuangan semakin luas, tetapi pemahaman terhadap keuangan syariah masih perlu diperkuat.
Menariknya, SNLIK 2025 juga menunjukkan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin tinggi literasi dan inklusi keuangannya. Kelompok tamat perguruan tinggi memiliki indeks literasi keuangan 90,63 persen dan inklusi keuangan 99,10 persen. Data ini memperkuat pesan penting yakni kuliah bukan hanya investasi akademik, tetapi juga investasi literasi hidup.
Sandwich Generation: Ketika Anak Muda Menanggung Banyak Arah
Fenomena sandwich generation semakin relevan dibahas dalam keluarga Indonesia. BPS Kota Surabaya menjelaskan bahwa generasi sandwich adalah kelompok usia produktif yang menanggung dua tanggung jawab sekaligus membiayai orang tua di satu sisi dan menghidupi anak atau keluarga di sisi lain. Dampaknya bukan hanya finansial, tetapi juga mental dan emosional, seperti tekanan ekonomi, kelelahan, dan tertundanya rencana pribadi.
Bagi anak muda, fakta ini penting disadari sejak awal. Banyak mahasiswa hari ini kelak tidak hanya akan mengelola gaji untuk dirinya sendiri, tetapi juga membantu orang tua, membiayai adik, mempersiapkan keluarga, membayar rumah, pendidikan anak, kesehatan, dan dana pensiun. Tanpa literasi keuangan, beban tersebut mudah berubah menjadi stres finansial.
Di sinilah frugal living bertemu dengan perencanaan keuangan syariah. Hidup hemat bukan tujuan akhir, melainkan strategi agar seseorang mampu menjalankan amanah keuangan secara lebih adil seperti memenuhi kebutuhan diri, membantu keluarga, menghindari utang konsumtif, menyiapkan dana darurat, serta tetap menjaga zakat, infak, sedekah, dan tanggung jawab sosial.
Strawberry Generation: Kreatif, Digital, tetapi Perlu Daya Tahan
Istilah strawberry generation sering digunakan untuk menggambarkan generasi muda yang kreatif, akrab dengan teknologi, tetapi dianggap lebih rentan menghadapi tekanan. Dalam kajian psikologi, istilah ini merujuk pada remaja atau anak muda yang kreatif tetapi rapuh dan mudah kewalahan ketika menghadapi tekanan; isu ini berkaitan dengan resiliensi dan kesehatan mental.
Namun, istilah ini sebaiknya tidak digunakan untuk menyalahkan anak muda. Generasi muda hari ini memang hidup dalam tekanan yang berbeda: kompetisi kerja, tuntutan produktivitas, paparan media sosial, ketidakpastian ekonomi, dan godaan konsumsi digital. Mereka bukan lemah, tapi mereka berada pada situasi membutuhkan sistem pendidikan yang mampu membangun daya tahan, karakter, dan kemampuan mengambil keputusan.
Salah satu bentuk tekanan nyata adalah konsumsi berbasis utang digital. Laporan Perilaku Pengguna Paylater Indonesia 2024 oleh Kredivo dan Katadata Insight Center menggunakan analisis transaksi dari lebih dari 2 juta sampel pengguna dan survei hampir 7 ribu responden. Laporan tersebut menunjukkan pengguna paylater didominasi usia muda: 43,9 persen berusia 26–35 tahun dan 26,5 persen berusia 18–25 tahun.
Data ini tidak berarti paylater selalu buruk. Masalahnya muncul ketika fasilitas keuangan digunakan tanpa perencanaan, tanpa pemahaman biaya, tanpa membaca risiko, dan tanpa kemampuan membedakan kebutuhan produktif dan konsumtif. Di sinilah pendidikan tinggi harus hadir sebagai ruang pembentukan financial judgment.
Mengapa Perbankan Syariah Universitas Alma Ata Relevan?
Program Studi S1 Perbankan Syariah Universitas Alma Ata berada pada posisi penting untuk menjawab tantangan ini. Secara resmi, Prodi Perbankan Syariah Universitas Alma Ata menekankan kompetensi di bidang keuangan berkelanjutan berbasis syariah, kemampuan beradaptasi terhadap teknologi, praktik perbankan syariah, simulasi keuangan digital, riset terapan, dan pengabdian masyarakat.
Sambutan Ketua Program Studi juga menegaskan bahwa Prodi Perbankan Syariah menawarkan keahlian di bidang manajemen keuangan syariah, mengarahkan mahasiswa agar sensitif terhadap isu keuangan nasional dan internasional, serta membekali mahasiswa melalui kurikulum Outcomes Based Education, sertifikasi kompetensi, dan pengalaman magang.
Dengan bekal ini, mahasiswa tidak hanya belajar tentang bank, akad, pembiayaan, investasi, atau regulasi. Mereka juga belajar membaca realitas sosial, detilnya seperti mengapa anak muda konsumtif, mengapa keluarga rentan utang, mengapa generasi sandwich membutuhkan perencanaan, dan mengapa prinsip syariah penting dalam membangun keuangan yang adil dan berkelanjutan.
Kuliah sebagai Bekal Hidup, Bukan Sekadar Gelar
Pada akhirnya, pendidikan tinggi adalah jalan untuk membangun masa depan yang lebih sadar. Bagi generasi muda, kuliah bukan hanya soal mendapat pekerjaan, tetapi juga soal membangun kemampuan mengelola rezeki, mengambil keputusan, menjaga keluarga, dan menghadapi risiko hidup.
Frugal living mengajarkan kesadaran. Sandwich generation mengajarkan tanggung jawab. Strawberry generation mengingatkan pentingnya resiliensi. Sementara pendidikan tinggi, terutama di Prodi Perbankan Syariah Universitas Alma Ata, memberikan fondasi ilmu, nilai, dan keterampilan agar anak muda tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara finansial dan etis.
Maka, ketika memilih kuliah, pilihlah bukan hanya program studi yang menjanjikan pekerjaan, tetapi juga program studi yang mengajarkan cara hidup, cara berpikir, dan cara mengelola masa depan. Sebab di tengah dunia yang semakin cepat, generasi muda tidak cukup hanya punya penghasilan. Mereka perlu punya ilmu, prinsip, dan keberanian untuk hidup lebih bijak.