Pendidikan tinggi penting bukan hanya untuk karier, tetapi juga untuk membangun kemampuan mengelola keuangan keluarga, mengambil keputusan finansial, dan menghadapi risiko ekonomi masa depan.
Di banyak keluarga, kuliah masih sering dipahami sebagai jalan menuju pekerjaan yang lebih baik. Pandangan itu tidak salah. Namun, di tengah perubahan ekonomi, naik turunnya pendapatan, risiko utang digital, biaya pendidikan anak, kebutuhan kesehatan, dan persiapan hari tua, pendidikan tinggi memiliki fungsi yang jauh lebih luas yakni membentuk manusia yang mampu berpikir rasional, mengambil keputusan, mengelola keuangan keluarga, dan membaca risiko masa depan.
Keluarga hari ini hidup dalam lanskap keuangan yang semakin kompleks. Gaji bulanan tidak lagi hanya dibagi untuk makan, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga. Ada cicilan, tabungan, dana darurat, asuransi, investasi, biaya pendidikan, layanan digital, hingga godaan konsumsi berbasis paylater. Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen Mei 2026 masih berada pada level optimis sebesar 120,9, tetapi Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini menurun dari bulan sebelumnya. Artinya, masyarakat tetap berharap pada masa depan, tetapi tekanan ekonomi rumah tangga tetap perlu dikelola dengan hati-hati.
Di sinilah pendidikan tinggi menjadi penting. Kuliah bukan hanya mengajarkan teori, tetapi melatih cara berpikir. Mahasiswa belajar membedakan kebutuhan dan keinginan, menghitung risiko, membaca data, memahami kontrak, menilai produk keuangan, serta mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan etis dan rasional. Dalam konteks keluarga, kemampuan ini sangat menentukan apakah pendapatan habis untuk konsumsi, atau dapat dikelola untuk membangun ketahanan ekonomi jangka panjang.
Data OJK dan BPS menunjukkan hubungan yang kuat antara pendidikan dan literasi keuangan. Hasil SNLIK 2025 mencatat indeks literasi keuangan nasional sebesar 66,46 persen dan inklusi keuangan 80,51 persen. Lebih menarik lagi, kelompok tamat perguruan tinggi memiliki indeks literasi keuangan 90,63 persen dan indeks inklusi 99,10 persen. OJK dan BPS bahkan menegaskan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin tinggi pula literasi dan inklusi keuangan masyarakat.
Namun, angka tersebut juga menyimpan pekerjaan rumah besar, terutama bagi pendidikan tinggi berbasis ekonomi dan keuangan syariah. Literasi keuangan syariah pada SNLIK 2025 baru mencapai 43,42 persen, sedangkan inklusi keuangan syariah hanya 13,41 persen. Ini berarti banyak masyarakat sudah mengenal lembaga keuangan, tetapi belum tentu memahami produk keuangan syariah, akad, risiko, hak konsumen, dan prinsip keadilan dalam transaksi. Padahal, bagi keluarga Muslim, kemampuan mengelola keuangan bukan hanya soal untung-rugi, melainkan juga soal halal, amanah, keseimbangan, dan keberkahan.
Pendidikan tinggi membantu calon sarjana membangun tiga kecakapan penting. Pertama, kecakapan mengelola arus kas keluarga. Banyak keluarga tidak jatuh miskin karena pendapatannya terlalu kecil semata, tetapi karena tidak memiliki perencanaan yang jelas. Pendapatan perlu dibagi untuk kebutuhan pokok, tabungan, dana darurat, proteksi, investasi, sosial-keagamaan, dan pengembangan diri. Tanpa literasi, keluarga mudah terjebak pada pola “gaji lewat, habis lewat”.
Kedua, kecakapan memahami risiko keuangan. Risiko tidak selalu datang dalam bentuk bencana besar. Ia bisa hadir melalui sakit mendadak, kehilangan pekerjaan, usaha keluarga menurun, gagal bayar cicilan, inflasi biaya pendidikan, atau keputusan investasi yang keliru. World Bank melalui Global Findex 2025 menekankan bahwa ketahanan keuangan dapat dilihat dari kemampuan orang mengakses dana darurat ketika menghadapi kebutuhan mendesak secara global, hanya 56 persen orang dewasa yang dinilai mampu mengakses dana ekstra secara andal saat keadaan darurat.
Ketiga, kecakapan mengambil keputusan keuangan secara etis. Dalam ekonomi syariah, uang bukan sekadar alat mengejar keuntungan pribadi. Uang harus dikelola dengan tanggung jawab, tidak merugikan orang lain, tidak berbasis riba, gharar, maysir, dan tidak mendorong perilaku konsumtif berlebihan. Pendidikan tinggi memperkenalkan mahasiswa pada prinsip maqashid syariah menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Dengan prinsip ini, pengelolaan keuangan keluarga tidak berhenti pada “berapa yang bisa dikumpulkan”, tetapi juga “untuk apa, dengan cara apa, dan berdampak apa”.
Dalam pengalaman pembelajaran di perguruan tinggi, mahasiswa yang terbiasa membaca kasus keuangan keluarga, simulasi anggaran, studi akad pembiayaan, analisis risiko, dan praktik literasi keuangan cenderung lebih kritis ketika berhadapan dengan produk keuangan. Mereka tidak mudah tergoda oleh iming-iming keuntungan instan, tidak sembarangan mengambil pinjaman, dan lebih hati-hati membaca konsekuensi akad atau kontrak. Inilah nilai tambah pendidikan tinggi yang sering tidak terlihat langsung, tetapi sangat terasa ketika seseorang mulai membangun keluarga, bekerja, membuka usaha, atau mengambil keputusan finansial besar.
Pendidikan tinggi juga tetap relevan dalam menghadapi pasar kerja. BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka Februari 2026 sebesar 4,68 persen, dengan rata-rata upah buruh Rp 3,29 juta. Angka ini menunjukkan bahwa tantangan ekonomi masyarakat bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi juga bagaimana mengelola pendapatan yang diperoleh. Berapa pun penghasilan seseorang, tanpa kecakapan finansial, pendapatan mudah habis. Sebaliknya, dengan literasi, disiplin, dan kemampuan mengelola risiko, pendapatan yang terbatas pun dapat direncanakan lebih sehat.
Karena itu, program studi di bidang ekonomi, keuangan, dan perbankan syariah memiliki peran strategis. Lulusan dari Prodi Perbankan Syariah Universitas Alma Ata tidak cukup hanya memahami teori bank, akad, pembiayaan, atau investasi. Mereka perlu menjadi agen literasi keuangan keluarga dan masyarakat. Seorang sarjana keuangan syariah idealnya mampu membantu keluarga menyusun anggaran, memilih produk tabungan yang aman, memahami pembiayaan rumah, menimbang risiko pinjaman digital, merancang dana darurat, dan membangun kebiasaan investasi yang sesuai prinsip syariah.
Pada akhirnya, kuliah di Prodi Perbankan Syariah Universitas Alma Ata bukan sekadar investasi untuk memperoleh ijazah. Kuliah adalah proses membangun cara berpikir, karakter, keterampilan, dan tanggung jawab. Pendidikan tinggi memberi seseorang kemampuan untuk membaca masa depan dengan lebih jernih kapan harus konsumsi, kapan harus menahan diri, kapan harus menabung, kapan harus berinvestasi, dan kapan harus menghindari risiko.
Maka, ketika orang tua menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi, sesungguhnya mereka tidak hanya sedang menyiapkan masa depan karier anak. Mereka sedang menyiapkan calon pengelola keuangan keluarga, calon pengambil keputusan, calon pendidik literasi keuangan bagi masyarakat, dan calon pemimpin ekonomi yang lebih bijak. Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, pendidikan tinggi adalah salah satu bekal terbaik untuk menjaga keluarga tetap tangguh, mandiri, dan bermartabat.