Yogyakarta — Bagi sebagian lulusan SMA dan SMK, pertanyaan setelah menerima ijazah bukan sekadar “mau kuliah di mana?”, tetapi jauh lebih mendasar: “apakah keluarga saya mampu membiayai kuliah?”

Pertanyaan itu nyata bagi banyak keluarga Indonesia. Di tengah kebutuhan hidup yang meningkat, keputusan mengirim anak ke perguruan tinggi sering kali harus berhadapan dengan biaya pendidikan, tempat tinggal, transportasi, hingga kebutuhan sehari-hari. Tidak sedikit calon mahasiswa yang sebenarnya memiliki kemampuan akademik dan keinginan belajar tinggi, tetapi harus mempertimbangkan kembali rencana kuliahnya karena kondisi ekonomi keluarga.

Di tengah situasi tersebut, Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) menjadi salah satu jalan penting untuk membuka akses pendidikan tinggi.

Namun, peluang itu bukan berarti tanpa batas.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mencatat bahwa pada 2026 pemerintah mengalokasikan anggaran KIP Kuliah sebesar sekitar Rp15,32 triliun dengan sasaran keseluruhan mencapai 1.047.221 mahasiswa, termasuk mahasiswa penerima yang sedang menjalani studi. Pemerintah juga menjelaskan bahwa kebijakan distribusi KIP Kuliah menetapkan kuota nasional mahasiswa baru minimal sekitar 200 ribu penerima, sementara distribusi pada perguruan tinggi swasta dilakukan melalui LLDIKTI dengan mempertimbangkan antara lain daya tampung dan akreditasi program studi.

Artinya, KIP-K merupakan kesempatan besar, tetapi calon mahasiswa tetap harus menghadapi proses seleksi, verifikasi kondisi ekonomi, persyaratan akademik, serta ketersediaan alokasi pada perguruan tinggi yang dipilih. Persyaratan resmi KIP Kuliah 2026 sendiri menegaskan bahwa penerimanya ditujukan kepada lulusan SMA/sederajat yang memiliki potensi akademik baik tetapi menghadapi keterbatasan ekonomi, serta telah diterima pada perguruan tinggi dan program studi yang memenuhi ketentuan.

Karena itulah, ketika sebuah kesempatan untuk kuliah melalui KIP-K terbuka, pertanyaan selanjutnya seharusnya bukan hanya “bisakah saya kuliah?”, tetapi juga “program studi apa yang dapat mempersiapkan masa depan saya?”

Perbankan Syariah Bukan Sekadar Belajar Menjadi Pegawai Bank

Salah satu pilihan yang relevan dengan perubahan industri keuangan Indonesia adalah Program Studi Perbankan Syariah.

Nama “Perbankan Syariah” terkadang masih dipahami secara sempit sebagai program studi yang hanya mempersiapkan mahasiswa menjadi teller atau customer service bank. Padahal, transformasi industri keuangan membuat kompetensi yang dibutuhkan semakin luas.

Otoritas Jasa Keuangan dalam Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perbankan Syariah Indonesia 2023–2027 menetapkan lima arah penting pengembangan industri, yaitu penguatan struktur dan ketahanan perbankan syariah, akselerasi digitalisasi, penguatan karakteristik syariah, peningkatan kontribusi terhadap perekonomian nasional, serta penguatan regulasi, perizinan, dan pengawasan.

Arah tersebut menunjukkan bahwa masa depan industri membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya memahami akad dan operasional bank, tetapi juga memiliki kemampuan dalam analisis pembiayaan, manajemen risiko, teknologi finansial, pemasaran layanan keuangan, audit dan kepatuhan, literasi keuangan, pengelolaan bisnis, hingga inovasi produk keuangan syariah.

Prospeknya juga tidak berdiri di atas asumsi semata.

Hingga Maret 2026, OJK mencatat aset industri perbankan syariah Indonesia mencapai Rp1.061,61 triliun, tumbuh 10,49 persen secara tahunan. Pembiayaan mencapai Rp716,40 triliun dan Dana Pihak Ketiga mencapai Rp811,76 triliun. OJK juga terus mendorong inovasi produk dan model bisnis baru dalam industri perbankan syariah.

Pertumbuhan tersebut tentu tidak berarti setiap lulusan otomatis memperoleh pekerjaan. Namun, data tersebut memperlihatkan bahwa ekosistem yang akan dimasuki lulusan bukanlah industri yang berhenti berkembang.

Justru terjadi transformasi.

Kuliah Harus Menjadi Investasi Mobilitas Sosial

Bagi mahasiswa dari keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas, kuliah seharusnya tidak dipandang sekadar sebagai proses memperoleh ijazah.

Kuliah merupakan investasi untuk memperbesar pilihan hidup.

Seorang anak dari keluarga sederhana mungkin tidak memiliki modal finansial yang besar. Namun pendidikan dapat memberinya modal lain: kompetensi, jaringan profesional, pengalaman organisasi, kemampuan digital, sertifikasi, pengalaman magang, serta kepercayaan diri memasuki dunia kerja.

Inilah alasan pemilihan program studi menjadi penting.

Program Studi S1 Perbankan Syariah Universitas Alma Ata, misalnya, memadukan pembelajaran perbankan dan keuangan syariah dengan perkembangan teknologi serta transformasi digital sektor keuangan. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga diarahkan pada praktik perbankan syariah, simulasi keuangan digital, riset terapan, dan kegiatan pengabdian yang relevan dengan industri. Program studi ini saat ini berstatus terakreditasi Baik Sekali oleh LAMEMBA.

Kompetensi tersebut memungkinkan lulusan melihat dunia kerja secara lebih luas. Bank syariah merupakan salah satu jalur, tetapi kemampuan keuangan, bisnis, analisis, dan teknologi juga dapat dikembangkan untuk memasuki BPRS, lembaga pembiayaan, industri keuangan digital, lembaga keuangan mikro, perusahaan, sektor kewirausahaan, serta ekosistem ekonomi dan keuangan syariah lainnya.

Dengan demikian, yang dibangun selama empat tahun bukan sekadar kesiapan mencari pekerjaan pertama, melainkan kemampuan beradaptasi terhadap pekerjaan yang terus berubah.

Jangan Mengundurkan Diri Sebelum Mencoba

Masalah terbesar terkadang bukan calon mahasiswa tidak memiliki kemampuan untuk kuliah, melainkan mereka telah menyerah sebelum mengetahui peluang yang tersedia.

Ada yang berasumsi kuliah pasti mahal. Ada yang merasa perguruan tinggi hanya untuk keluarga berada. Ada pula yang tidak berani mendaftar KIP-K karena merasa persaingannya terlalu sulit.

Padahal, esensi program KIP Kuliah memang diperuntukkan bagi calon mahasiswa yang memiliki potensi akademik tetapi terkendala secara ekonomi.

Karena itu, langkah yang lebih tepat adalah mempersiapkan dokumen dengan benar, memahami persyaratan resmi, memilih perguruan tinggi dan program studi secara rasional, serta mengikuti seluruh proses seleksi.

Pada laman penerimaan mahasiswa baru Universitas Alma Ata, jalur KIP Kuliah juga menjadi bagian dari skema penerimaan yang dapat diikuti sesuai persyaratan dan proses seleksi yang berlaku. Program Studi S1 Perbankan Syariah menjadi salah satu program yang ditawarkan Universitas Alma Ata dalam rumpun pendidikan ekonomi dan keuangan.

Namun penting ditegaskan bahwa mendaftar KIP-K tidak identik dengan otomatis menjadi penerima. Keputusan penerimaan tetap mengikuti ketentuan pemerintah, proses verifikasi, kelayakan calon mahasiswa, dan alokasi yang tersedia. Transparansi seperti inilah yang penting agar calon mahasiswa membuat keputusan berdasarkan informasi yang benar, bukan janji.

Kesempatan Hari Ini Bisa Menentukan Posisi Kita Lima Tahun Mendatang

Kondisi ekonomi keluarga memang dapat membatasi banyak pilihan. Tetapi kondisi ekonomi saat seseorang berusia 18 tahun tidak harus menentukan kondisi ekonominya sepanjang hidup.

Pendidikan adalah salah satu instrumen yang dapat mengubah lintasan tersebut.

Di saat industri keuangan syariah Indonesia bergerak menuju digitalisasi, inovasi produk, penguatan regulasi, dan perluasan kontribusi terhadap perekonomian nasional, kebutuhan terhadap generasi muda yang memahami keuangan sekaligus prinsip syariah dan teknologi menjadi semakin relevan.

Karena itu, bagi calon mahasiswa yang mempunyai kemampuan dan semangat belajar tetapi sedang menghadapi keterbatasan ekonomi, kesempatan memperoleh KIP Kuliah patut diperjuangkan.

Dan ketika kesempatan tersebut datang, memilih Perbankan Syariah bukan hanya tentang memilih tempat kuliah.

Ini adalah tentang memilih kompetensi.

Memilih jaringan.

Memilih pengalaman.

Dan yang paling penting, memperbesar pilihan masa depan.

Keterbatasan ekonomi hari ini boleh menjadi tantangan. Namun jangan sampai ia menjadi alasan untuk menghentikan cita-cita sebelum perjuangan dimulai.