Ditulis oleh Ragil Satria Wicaksana, S.E.I., M.S.I., RIFA
Perbankan Syariah – Bulan Ramadhan 1447 Hijriah telah datang, membawa banyak keberkahan tentang semangat perubahan dan pembelajaran. Hal ini tidak hanya berhenti pada sisi semangat kesalehan agama, namun adanya bulan Ramadhan juga membawa dampak yang besar dalam meningkatkan kualitas pada kesalehan sosial. Salah satu aktivitas kesalehan sosial yang menarik untuk dibahas adalah tentang peran mahasiswa meningkatkan produktivitasnya selama di bulan ini.
Rasa kantuk tentu akan menjadi salah satu tantangan besar yang dihadapi oleh banyak mahasiswa. Kenapa hal itu bisa terjadi? Tentu dengan dalih positif bahwa intensitas ibadah dari mahasiswa selama di bulan ini menjadi lebih tinggi, shalat tarawih dilakukan secara kontinyu, shalat sunnah yang lainnya juga tidak luput untuk dilakukan. Efeknya, jam istirahat menjadi sedikit mundur kata kebanyakan orang, namun apakah ini benar? Jawabnya tentu tidak sepenuhnya benar. Ramadhan memberikan dorongan nuansa dan semangat internal yang sangat berbeda dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain. Ada perasaan yang sangat disayangkan atau ‘eman’ jika peluang untuk melakukan kebaikan ditunda pada bulan ini. Bukan berarti pada bulan lain akhirnya kita menjadi prokrastinasi yang handal lho ya.
Artikel ini akan menyoroti tentang dua tips kunci bagaimana menjadi mahasiswa yang produktif selama terlibat dalam proses pembelajaran di bulan Ramadhan. Pertama, adalah kuatkan dan kunci niat bahwa belajar adalah ibadah sepanjang hidup. Apakah di bulan lain niat ini tidak terbentuk? Bukan begitu maksudnya, melalui perjalanan ibadah selama di bulan Ramadhan. Mahasiswa belajar untuk kembali memurnikan niat (purifikasi) tentang apa pentingnya menjadi seorang pembelajar sepanjang hayat (life long learner). Niat yang berhasil dimurnikan, akan membawa mahasiswa pada orientasi yang jelas, membangun batasan tentang prioritas mana yang harus dilakukan dan yang perlu dihindari. Dari bulan Ramadhan ini, mahasiswa kembali melakukan muhasabah (introspeksi diri) tentang sejauh apa berkembang menjadi individu dan pencapaian apa yang sudah berhasil dilakukan.
Kedua, lakukan kebiasaan kecil baru namun konsisten. Kebiasaan baru di bulan ini adalah melaksanakan ibadah shalat tarawih, analogi yang sempurna tentang ajaran membangun kebiasaan baru yang diupayakan untuk terus konsisten. Langkah yang berat, fisik yang lelah, kadang disertai mata yang menahan kantuk yang dalam, itu semua adalah benar. Namun hal utama yang harus dipahami adalah perasaan puas dan bahagia ketika seseorang berhasil menyelesaikan aktivitas ibadah itu dengan membangun makna perubahan. Kenapa perubahan? Jawaban ini jelas, karena melakukan hal yang tidak biasa akan menuntut perubahan kecil dan berdampak besar.
Dari pola ini, mahasiswa hendaknya memperluas kebiasaan kecil tersebut untuk menemukan arti yang lebih dalam. Contoh yang relevan yakni dengan membangun jejaring yang semakin ekspansif, berkunjung ke masjid-masjid lain untuk merasakan suasana baru yang konstruktif. Pengalaman seperti ini penting, tidak hanya untuk membangun kemampuan beradaptasi. Lebih jauh, melihat dan merasakan suasana yang baru akan menstimulasi otak mahasiswa agar kritis dalam aspek kognitif, memperkuat afeksi dalam hal pertemanan dan peluang kolaborasi, dan puncaknya mampu memusatkan konasi (kehendak) untuk andil terlibat pada entitas masyarakat. Bagian yang tentu sudah semakin mahal dan langka dari mahasiswa yang kadang harus menunggu hingga tahap Kuliah Kerja Nyata (KKN) dilakukan.