Ragil Satria Wicaksana, SEI., MSI., RIFA
Perbankan Syariah – Sering menjadi pertanyaan di kalangan generasi muda saat ini, apa tips dan trik yang paling cepat untuk menjadi kaya? Tentu saja jawabannya tidak ada. Ilmu ekonomi dan bisnis mutakhir sekalipun, tidak memberikan jaminan bahwa pengaplikasiannya akan memberikan hasil akhir atau terminasi memberikan kekayaan secara instan. Namun satu hal yang pasti dari ilmu manajemen, ekonomi, bisnis dan keuangan adalah kemampuan untuk mengelola kekayaan itu sendiri, baik dalam konteks individu maupun dikelola oleh lembaga.
Selanjutnya, apabila seseorang sudah beranjak pada satu tingkatan untuk disebut ‘kaya’ muncul pertanyaan baru mengenai mengapa seseorang harus menjaga kekayaannya dan bagaimana caranya? Generasi muda atau bahkan generasi atas sekalipun kerap kali terjebak pada suatu paradoks, setelah menjadi kaya seseorang akan mencari apa? Hal inilah yang menjadi perhatian serius cendekiawan atau kalangan akademisi yang berkiprah pada dunia keuangan maupun bisnis, bahwa sejatinya tujuan mengelola keuangan bukanlah untuk menemukan kebebasan dalam konteks finansial (financial freedom) lebih utama lagi adalah memahami apa itu kebijaksanaan finansial (financial wisdom).
Tulisan ini dibuat untuk memberikan pemahaman lain, makna serta sudut pandang yang berbeda dari bagaimana seseorang mencari, menjaga dan melestarikan kekayaan yang dimiliki. Jika dibuat suatu ilustrasi sederhana, bagaimana seseorang menjaga ekosistem kekayaannya maka hal yang dapat dicermati adalah sebagai berikut, Pertama, seseorang atau lembaga hendaknya berhasil untuk mengidentifikasi cash flow (aliran kas) secara periodik, bisa harian, mingguan, bulanan atau bahkan tahunan. Hal ini sangat membantu mereka untuk menentukan apakah posisi keuangan dalam kondisi yang sehat dengan melihat indeks surplus ataupun defisit. Kedua, langkah yang bisa dicoba adalah dengan melakukan proteksi keuangan. Proteksi keuangan bisa melalui berbagai media, Asuransi hanyalah satu contoh kecilnya. Namun jika ditanyakan berapa banyak anak muda sekarang yg aware (sadar) dengan pentingnya proteksi? Jawabannya belumlah banyak.
Apabila individu mulai menyadari manfaat dari adanya proteksi yang tidak hanya bersumber dari Asuransi, contoh lain yang bisa digunakan adalah contingency fund (dana darurat) yang dikumpulkan melalui skema Tabungan. Besarannya tidak perlu menjadi patokan harus berapa, namun secara kontinyu, sebaiknya seseorang atau individu wajib memiliki simpanan dana darurat yang disisihkan. Ketiga kita sebut sebagai investasi. Jangan terjebak pada satu cara berpikir besar (aksioma) bahwa investasi yang menjanjikan adalah surat berhaga. Hal tersebut hanyalah satu opsi dari sekian banyak alternatif yang bisa dicoba, anak muda bisa mengenali karakter bisnis yang mereka paling sukai dan kuasai untuk membantunya dalam melihat variasi risiko (risk exposure), harapannya tentu mereka menjadi batas toleransi risiko (risk tolerance) yang lebih presisi. Salah satu pertimbangan yang bisa diambil oleh mereka yakni mencoba dengan bisnis yang datang dari hobi ataupun kesenangan yang digeluti. Terakhir, yakni keempat adalah puncak dari menjaga kekayaan adalah dengan melakukan optimasi distribusi. Bisa dilakukan dalam tujuan ataupun maksud kesenangan, aktivitas sosial atau memang suatu program kerja terrencana yang diharapkan mampu mengelevasi keadaan sekitar untuk menjadi lebih baik.