Perbankan Syariah – DIY. Apa bagian tersulit sebagai mahasiswa? Tentu ini menjadi pertanyaan reflektif yang cukup menguras tenaga. Tidak semua individu mampu untuk mengungkapkan dengan jelas, meskipun status mereka adalah siswa yang diberikan predikat ‘maha’. Hal pragmatis yang sering menjadi klise atau alih-alih jawaban (pretensi) adalah manajemen prioritas. Di mana banyak dari mahasiswa di era sekarang justru menjadi pribadi dengan karakter prokrastinator atau kebiasaan untuk menunda karena merasa memiliki kewajiban yang lebih utama selain menjadi seorang pelajar. Lebih khusus fakta ini didukung dengan banyaknya status mahasiswa yang mengambil kerja sampingan (side job) sebagai bagian daru rutinitas harian mereka.
Dari berbagai fakta yang bisa diobservasi di lapangan, dapat disimpulkan bahwa beberapa alasan kuat seorang mahasiswa memilih pekerjaan sampingan dikarenakan oleh tiga faktor utama. Pertama, kesadaran untuk mengurangi beban keuangan keluarga dengan cara mencukupi biaya hidup dari hasil pekerjaan sendiri. Hal ini juga dikuatkan dengan motivasi untuk belajar menabung sekaligus mencoba berinvestasi meskipun dalam skala kecil. Kedua¸ pengalaman kerja dan membangun jaringan, satu hal yang sering menjadi ‘momok’ pertanyaan ketika mahasiswa lulus dari jenjang pendidikan mereka adalah memiliki riwayat pekerjaan seperti apa? mengambil pekerjaan sampingan bisa menjadi solusi praktis untuk menambah portofolio pengalaman sebagai catatan nilai positif kandidat pelamar kerja. Ketiga, mengikuti tren, sering kita dengar istilah Fear of Missing Out (FOMO) yakni satu kondisi seseorang merasa khawatir atau takut jika terasing karena tidak dapat mengikuti satu kebiasaan (tren) yang sedang berlangsung.
Mahasiswa yang mampu membangun regulasi diri yang kuat disertai dengan manajemen prioritas yang baik dari sisi kontrol waktu adalah individu yang luar biasa. Tidak ada kata yang pantas untuk mereka terima, selain selamat dan kalian sangat luar biasa. Ini menjadi contoh dan acuan positif bahwa kesibukan bekerja sebenarnya bisa dikendalikan agar seseorang tetap fokus dalam merealisasikan tujuan pendidikannya. Teresa M. Amabile dalam Teori Komponensial Kreativitas dan terpublikasi pada Harvard Business School tahun 2013 memberikan gambaran yang jelas bahwa dalam diri manusia, motivasi yang dapat dikendalikan terdiri dari dua unsur pokok yakni intrinsik dan ekstrinsik. Mahasiswa wajib mengenali dua kekuatan ini agar mampu menjadi insan yang solutif dan adaptif dalam menghadapi tantangan era yang semakin dinamis.
Domain-relevant skills atau keahlian relevan-bidang menjadi salah satu faktor intrinsik yang dikaji oleh Amabile. Ini menyangkut kesadaran kognitif, konteksnya sebagai mahasiswa adalah keahlian teknis dan kepakaran. Mahasiswa sering tidak menyadari bahwa dengan memilih jurusan keilmuan atau program studi sejatinya mereka membentuk ketertarikan pada suatu bidang. Maka motivasi intrinsik dalam isu domain-relevant skills adalah cara mahasiswa mengelaborasi pengalaman dan merespon keadaan secara kreatif agar mampu menghasilkan suatu peluang. Faktor ekstrinsiknya perlu mencermati pada unsur lingkungan sosial, Amabile menyebutnya The Social Environment. Ini merupakan komponen eksternal yang dapat berdampak pada motivasi seorang mahasiswa. Lingkungan perkuliahan, pertemanan, termasuk kerja memberikan kontribusi yang besar dalam menguatkan atau melemahkan motivasi seseorang. Oleh karena itu, mahasiswa yang memilih untuk berkreasi dan mengembangkan diri dengan bekerja sudah sewajarnya untuk menemukan lingkungan yang kondusif serta progresif agar kemampuan dalam menciptakan ide, menyelesaikan masalah, dan menginternalisasi norma dapat terus ditingkatkan.